Tuesday, June 4, 2013

Another Love Story

Part 1 : “RAFLY (TEMAN SEKOLAH DI SMU)”

Sejak awal masuk sekolah, RAFLY sudah menjadi topik pembicaraan. Baik oleh guru, kakak kelas, sampai teman satu angkatan.

Ceritanya, pada waktu masa orientasi dia datang terlambat, dan seorang kakak kelas yang angkuh, sok-memarahi Rafly habis-habisan.

Pertama sih Rafly sangat cuek. Tapi kemudian kakak kelas itu semakin menjadi jadi dan berkata: "Loe gak pernah diajari sopan santun sama ORANG TUA LOE ya?. Mereka gak becus mendidik loe hah?. Gak bisa ngajarin elu baca jam dan.. ... “.

Rafly langsung MENGHAJAR senior itu sebelum dia bisa menuntaskan kalimatnya tadi.

Terjadi kehebohan yang hebat hingga akhirnya para guru ikut turun tangan.
Hebatnya,selama menjalani pemeriksaan, tak sepatah katapun keluar dari mulut Rafly untuk membela diri. Dia benar2 bungkam seribu bahasa.

Karena tak bisa mendapat informasi darinya, para Guru mencoba bertanya pada kami, teman satu ruangnya. Mulanya tidak ada yang berani bicara.
Para guru sudah hampir mencoret nama Rafly dari daftar siswa baru.
Hingga akhirnya AKU tak tahan dan MAJU. Aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan perkiraanku kenapa Rafly bisa ngamuk. Bahwa Rafly marah karena kakak kelas itu MENGHINA orangtuanya.

Keputusan akhir, para Guru memutuskan untuk tidak memperpanjang urusan itu.

 
Sejak kejadian itu, Rafly jadi sosok yang DITAKUTI di sekolah.

Jarang ada teman yang mau berbicara dengannya. Baik cowok ataupun cewek. Kecuali saat mereka benar-benar butuh dan perlu bicara dengannya. Itupun biasanya hanya karena ada titipan atau pesan dari guru. Selain dari itu, mereka lebih suka membiarkannya sendiri. Mereka sungguh NGERI padanya. Hal itu ditunjang oleh penampilan dan sikap Rafly yang cukup mengintimidasi.

Rafly bertubuh tinggi atletis untuk ukuran anak kelas 1 SMA, padahal dia hampir tidak pernah ikut kegiatan olah raga di sekolah. Wajahnya sebenarnya tampan, bahkan ‘cute’, -tapi berkesan dingin dan tajam. Akibatnya malah jadi nyeremin!.

Orang pasti keder melihatnya. Belom lagi kabar bahwa dia berhasil NGALAHIN LIMA orang kakak kelas yang mencoba mengeroyoknya. Buntut dari peristiwa orientasi waktu itu. Orang pasti mengkeret kalau Rafly sudah menatap mereka dengan tajam. Kebanyakan dari mereka pasti lebih memilih ngacir tanpa menunggunya bersuara.

Maka dengan sendirinya Rafly TERKUCILKAN.
Tapi sepertinya dia tidak perduli. Rafly cenderung acuh. Malah seolah olah menikmati kesendiriannya.
Yang membuatku salut, pada saat kenaikan ke kelas 2, dia ternyata masuk dalam 10 BESAR kelas. Padahal seingatku, dia tidak terlalu aktif di kelas dan tidak pernah ikut ekskul. Malahan selalu datang mepet ke sekolah.  Setelah jam istirahat terakhir, aku jarang melihatnya duduk tegak menyimak pelajaran. Lebih sering dia TERTIDUR di bangkunya. Siapa sangka dia bisa masuk dalam 10 besar kelas.

Di kelas 1, aku memang sekelas dengan dia, walau awalnya hanya bersifat sebagai teman biasa, tapi pelan pelan, mulai timbul RASA KAGUMKU dan perasaan simpati yang berbeda terhadap dirinya.
Bukan saja karena dia termasuk 10 besar, tapi yang jelas aku menyukai keunikan karakternya, juga PENAMPILAN fisiknya, dan mungkin tampangnya yang ‘cute’ itu.

Setelah naik ke kelas 2, aku ditunjuk menjadi KETUA KELAS, lagi lagi aku duduk sebelah dengan Rafly.

Di kelas dua, Rafly tetap konsisten dengan pembawaannya yang cuek dan penyendiri. Jadi baik aku, ataupun teman2 sekelas yang lain memperlakukannya seperti biasa. Walau aku kebetulan duduk sebangku, tidak berarti sikapnya lebih ramah kepadaku.

*MENEMUI RAFLY*


Suatu saat, 3 hari berturut-turut Rafly absen tanpa alasan yang jelas.
Pada hari ke-4 wali kelas kami memintaku untuk menyampaikan surat panggilan ke rumahnya, karena aku adalah KETUA KELAS. Beliau memberiku sebuah alamat.

Sebagai ketua kelas aku tentu tak dapat menolak tugas wali kelasku, maka sore harinya dengan diantar sopir, aku mencari rumahnya.
Cukup sulit. Dan butuh waktu 2 jam bagi kami untuk menemukannya. Selain karena letaknya yang 4 km dari sekolah, rumah Rafly juga sedikit tersembunyi.

Dia tinggal di daerah pinggiran yang sebenarnya cukup ramai dan padat. Kebanyakan, daerah yang sedikit kumuh itu dihuni oleh para pendatang dari luar pulau. Untuk ke rumah Rafly, kami harus memarkir mobil di tepi jalan raya dan masuk ke gang yang hanya cukup dilewati oleh 2 buah sepeda motor. Dan sedikit berbelok-belok.

Akhirnya setelah bertanya pada beberapa orang, barulah kami mendapat kejelasan lokasi rumah Rafly.
Dan pergi kesanalah kami, sampai di depan sebuah rumah kecil yang luasnya cuma 6x8 meter.

Aku sedikit ragu untuk mengetuk pintu melihat suasananya yang sunyi. Rumah yang terbuat dari kayu itu tampak lengang tak berpenghuni. Suasana sudah gelap, tapi tak ada satu lampu pun yang menyala disana.

Aku dan sopirku sudah hendak pergi ketika seorang pria berusia 30 tahunan mendekat.
"Maaf Dik. Nyari siapa ya?" sapanya dengan logat Jawa.

Untuk sejenak, aku cuma saling pandang dengan sopirku, ragu. "Anu Pak. Saya nyari rumah teman saya. Rafly Bayu Kurniawan” kataku akhirnya.

"Ooh RAFLY?. Lha bener ini rumahnya” tunjuknya ke rumah itu.
"Ada kok di dalam. Mungkin ketiduran. Dia kan lagi sakit. Sudah 3 hari ini gak bisa apa2. Kasihan, gak ada yang jaga."

"Sakit?. Gak ada yang jaga?" gumamku tak mengerti.

"Lho?. Ndak tahu tho?. Orang tua Rafly kan sudah lebih dari setahun meninggal. Kecelakaan. Jadi dia tinggal sendiri”.

Aku tercenung, tak mampu membayangkan bagaimana seorang murid SMA harus hidup sendirian ditinggal oleh kedua orang tuanya dan tanpa sanak saudara.

“Ayo masuk. Pas bener adik kesini dan ketemu saya. Saya lagi nganter bubur ini buat dia. Ayo..."

Pria itu mengajak aku dan membuka pintu yang ternyata tak dikunci.  Tampaknya dia terbiasa dengan rumah itu. Dia segera menghidupkan lampu dan mempersilahkanku duduk, lalu masuk ke dalam.

Aku diam disana dan menatap ke sekeliling ruangan.
Ruang tamu itu begitu sederhana. Hanya ada sebuah meja dan empat kursi kayu. Tak ada perabotan atau hiasan di dindingnya. Tak ada foto yang dipajang. Tak ada sedikitpun petunjuk yang bisa kutangkap tentang kehidupan Rafly ataupun hubungannya dengan pria tadi.
  *********** 

Tak lama kemudian mereka keluar. Pria tadi memapah RAFLY.  Wajah TAMPANNYA kali ini terlihat pucat dan tubuhnya tampak lemah, kusut dan kuyu. Begitu tak bertenaga. Matanya yang biasanya tajam dan serem terlihat sayu dan sedikit mengantuk.

Melihatnya seperti itu, aku cepat bangkit dan membantunya untuk duduk. Meski terlihat sedikit kaget, Rafly diam saja membiarkan aku membantunya.

"Bener gak apa-apa saya tinggal Wan?" tanya si bapak-bapak. Pertanyaan dia sedikit mengherankanku.

"Iya Bang. BANG ARIF pulang saja. Kan katanya ada garapan yang harus diambil besok pagi. Saya sudah mendingan kok Bang. Cuma sedikit lemas. Kan baru bangun” jawab Rafly dengan nada ramah dan akrab.

Baru kali ini aku mendengarnya berbicara memakai nada seperti itu. Biasanya dia cuma ngomong dengan singkat dan dingin.

"Ya sudah kalau gitu. Dhek Dimaz nanti tolong Rafly kalau butuh bantuan kembali ke kamar ya?" pinta si Bapak yang dipanggil BANG ARIF tadi padaku.

"I-iya Pak. Eh... Mas..” jawabku kikuk.

Dia hanya tersenyum.
"Panggil BANG ARIF aja kayak Rafly. Ya sudah, permisi. Assalamualaikum” pamitnya, dan berlalu setelah kami menjawab salamnya.




Untuk beberapa saat lamanya, kami diam.
Aku jadi merasa canggung dan bingung harus mengatakan apa. Lucunya, hampir bersamaan kami membuka mulut untuk mengatakan sesuatu.

"ADA APA KESINI..?" tanya Rafly akhirnya setelah kebisuan yang meresahkan. Nadanya kembali dingin seperti biasa.

"Anu. . . ada titipan dari wali kelas” kataku dan mencoba mencairkan suasana dengan sedikit senyum.

Rafly tak membalasnya. Dengan diam dia mengambil amplop yang kuulurkan. Dia hanya menghela nafas setelah membacanya sekilas.

"Wali kelas nggak tahu tentang keadaan lu Raf. Karena itu beliau mengirim surat. Jangan khawatir, gue udah coba jelaskan dan. . ."

"GAK PERLU..!" potong Rafly membuatku langsung terdiam. "Besok gua akan masuk!"

"Jangan maksa diri Raf. Elu masih lemes gini” saranku.

"Gua udah sembuh!" potongnya, yang membuatku kembali terdiam.
Kecanggungan kembali menggelayut. Aku sendiri bingung, karena sepertinya tak ada lagi yang bisa kukatakan.

Aku berdehem, mengumpulkan suara. "Kalau gitu. . ., gue permisi dulu ya?" kataku akhirnya.
Karena Rafly tak menjawab, aku pun bangkit: “Elu mau gue bantu masuk kedalam atau. . .”

"Gua cuma sakit-kurang enak badan. BUKAN cacat-tubuh!!" tukasnya sedikit tajam membuatku tersipu.
"Sorry....!. Kalo begitu, gue permisi” pamitku dan cepat-cepat pergi.

  ***********

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tak bisa tidur semalaman memikirkan seseorang.

Aku mengingat-ingat potongan-potongan cerita yang disampaikan oleh BANG ARIF tentang RAFLY. Bahwa orang tuanya telah meninggal, dan dia hidup sendiri. Mungkin inilah alasannya kenapa waktu orientasi dulu, Rafly langsung menghajar senior yang menghina orangtua nya.
Masih untung ada rumah peninggalan orang tua dan sedikit tabungan. Tapi tak terbayangkan anak remaja harus hidup sebatangkara,
Lalu siapa yang menghidupinya?. Menyekolahkannya?. Memenuhi dan menyediakan kebutuhannya?. Apa lagi sekarang saat Rafly sakit. Siapa yang akan memasak dan menjaganya?.

Semua hal itu berkecamuk dalam pikiranku hingga fajar hampir datang.
 
*SAKIT*


Keesokan harinya, ternyata Rafly tetap tidak masuk sekolah.

Saat istirahat, aku dipanggil oleh wali kelas. Segera saja kuberitahukan apa yang kuketahui. Bahwa Rafly sakit dan orang tuanya telah meninggal.
Beliau sepertinya mengerti dan mengatakan akan melakukan sesuatu untuk memperbaiki catatan Rafly di sekolah.

Aku sendiri, begitu usai sekolah usai langsung menuju tempat praktek dokter langganan keluargaku dan mengajaknya ke rumah Rafly.

Seperti sebelumnya, rumah Rafly tampak lengang seperti tak berpenghuni. Setelah mengetuk dan mengucapkan salam beberapa kali, tapi tak ada sahutan, akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka pintu yang ternyata tak dikunci.

Ruang depan kosong, jadi aku ke dalam.
Aku menemukan Rafly tergolek PINGSAN di lantai kamarnya. Ada bekas muntahan di dekatnya.

Sedikit kehebohan terjadi!.

Dokter segera memeriksa dan mencoba menyadarkannya. Karena Rafly terlalu lemah, kami memutuskan untuk langsung membawanya ke rumah sakit. 3 jam aku menungguinya.

Yang kulakukan bukan bagian dari tugasku sebagai ketua kelas, tapi lebih didorong oleh keinginan untuk membantu Rafly, teman sebangkuku, tapi juga orang yang diam-diam kusukai.

  *********** 

Saat Rafly sadar dan tahu sedang berada dimana, dia marah dan ngotot pulang. Tentu saja pihak rumah sakit menahannya.

Karena dia terus berontak, Dokter memberinya obat penenang.
Tapi sebelum tertidur dia sempat menggumamkan tentang UANG dan BIAYA perawatan. Sepertinya, itu adalah alasan kenapa dia ingin segera pergi.

Keesokan harinya saat aku kembali, Rafly terbaring tenang meski aku bisa melihat gurat kekesalan di wajahnya. Untuk beberapa saat kami cuma saling diam.

"Dokter bilang, lu gak boleh makan yang keras-keras untuk sementara waktu” kataku, mencoba memulai percakapan.
"Jadi..... , gue bawakan roti dan sedikit makanan ringan yang lunak. Juga susu. Gue udah tanya Dokter, asal bukan susu coklat, lu boleh meminumnya."

Tak ada sahutan.
"Mengenai biaya rumah sakit, lu gak usah khawatir” imbuhku.
"Pihak sekolah yang akan nanggung. Lu tentu tahu kalo ada ASURANSI bagi para siswa. Jadi lu gak perlu khawatir dan. . ."

"Loe yang ngasih tau pihak sekolah?. Kenapa?" mendadak Rafly memotong kalimatku.

Untuk sesaat aku tercenung mendengar nada suaranya yang tidak ramah. Lebih cenderung menegur dari pada bertanya.

"Yeah. . .!.  Tentu aja. Gue ketua-kelas dan gue satu-satunya orang di sekolah yang tahu keadaan lu kan?" tanyaku balik dan sedikit tersenyum untuk mencairkan suasana.

Kembali tak ada sahutan dari Rafly.

Aku yang masih canggung akhirnya meraih sebungkus roti dan membukanya.
"Coba rasain roti ini deh. Gue suka banget. Tiap pagi gue makan ini lho!" ujarku nyengir dan mengulurkan selapis roti itu padanya.

Semula Rafly ragu.
Namun akhirnya, sesaat kemudian dia bergerak hendak bangkit dari tidurnya. Terlihat agak susah karena ada selang infus dan dia juga sepertinya masih lemah.

"Jangan!" kataku cepat menahannya.
"Lu tidur aja!. Masih lemes gitu. Biar gue bantu” kataku dan mencuil sedikit roti itu dan menyorongkan ke depan bibirnya.

Rafly sedikit tertegun. Sesaat, matanya memandang ANEH ke arahku.

Aku paham apa yang dirasakannya. Akan tampak JANGGAL kalau aku MENYUAPINYA. Rasanya TAK BIASA menyuapi teman lelaki, walaupun itu hanya bercanda, ataupun sedang sakit seperti Rafly.
Tapi kepalang tanggung. Lagipula keadaan Rafly juga tidak mendukung.

Akhirnya Rafly mau membuka mulutnya meski dengan sedikit enggan.
Aku tersenyum agar dia merasa rileks.

 

Rafly berdehem tanda hendak mengatakan sesuatu. "Jadi. . . apa benar ada asuransi untuk kasus kayak gua?" tanyanya ingin tahu.

Aku diam, tak langsung menjawabnya karena aku tahu, kalau tidak berhati-hati, akan ada masalah baru.

"Maksud lu apa?" tanyaku balik.

"Gua tahu emang ada asuransi bagi para siswa di sekolah kita. Tapi biasanya pihak ansuransi hanya menanggung  buat insiden yang terjadi pada saat proses belajar di sekolah. Jika terjadi diluar lingkungan dan jam sekolah, apakah itu bukannya jadi tanggung jawab pribadi?" tanyanya.

--Seharusnya aku tahu kalau Rafly tidak bodoh, pikirku.
Aku memang BOHONG mengenai asuransi, tapi tak mungkin kalau aku bilang ke dia bahwa semalam aku minta bantuan ayahku untuk menanggung biaya rumah sakit ini.

Bahkan aku juga mengambil inisiatif lebih dan merekomendasikan pada ABI (ayahku) agar Rafly dibantu untuk mendapat BEASISWA.
Untuk menyampaikan itu pada Rafly, aku masih perlu waktu. Tapi bagaimanapun juga, dia layak mendapatkannya kan?. Selain karena prestasi sekolahnya, ekonomi Rafly juga memenuhi syarat.

"Apa itu penting Raf?" aku balik bertanya sembari menyorongkan secuil roti lagi padanya.

Rafly tak menjawab.
Dia menatapku dengan seksama, membuatku jadi canggung dan salah tingkah.

Aku tahu orang sejenis dia memiliki gengsi dan harga diri yang tinggi. Kalau dia tahu aku membantunya, mungkin dia akan menolak, bahkan meledak tersinggung.

"Gua gak punya pilihan lain kan?" gumamnya kemudian dengan nada pahit, membuatku kembali berpaling padanya.
Rafly sudah membuang pandangannya ke samping dengan ekspresi kalah. Seperti yang kuduga, harga dirinya terusik. Dia sakit hati.

"Gak ada manusia yang bisa hidup sendiri Raf” kataku pelan.
"Sekuat apapun seseorang, suatu saat dia akan mencapai batasnya. Dia pasti akan berada di suatu kondisi, dimana dia harus bergantung pada orang lain. Siapapun itu”.
“ Orang-orang besar seperti Alexander The Great, Bung Karno, atau bahkan Nabi, gak mengubah dunia sendirian. Ada orang-orang di samping mereka. Para sahabat, keluarga dan yang lainnya. Singkatnya, kita akan selalu membutuhkan orang lain. Jadi. . . gak perlu merasa kalah, tersinggung. Apa lagi. . . terhina. Hal itu benar-benar wajar kok!"

Rafly kini diam menatapku.
Aku kembali tersenyum padanya. Mencoba menyuntikkan semangat dan kembali menyuapkan roti untuknya.

Entah kenapa ada perasaan senang bisa menyuapi Rafly seperti ini, hingga beberapa lama kemudian, akhirnya dia menghabiskan dua lapis roti, tak ada kata-kata yang kami ucapkan.

Setelah merasa cukup, aku pun pamit.

"DIMAZ..!" panggil Rafly saat aku hampir mencapai pintu, membuatku kembali berbalik padanya: “...Terima kasih” katanya pelan.

Kudengar nada kesungguhan yang TULUS dalam ucapannya.
Aku mengangguk dan tersenyum: “Besok gue kesini lagi. Mau gue bawakan sesuatu?"

Rafly menggeleng: “Datang saja” katanya diiringi seulas senyum.

Mendengarnya, aku benar-benar merasa lega.
IJIN dia membuatku seakan-akan aku telah mendapat RESTU untuk memasuki dunianya. Mendekati kehidupannya.

Kurasa, Rafly kini mulai BISA MENERIMAKU. Ahh....
Lalu aku pergi dengan senyum dibibirku.
 



*MENDEKAT*
Setelah itu, kami memang menjadi sedikit lebih akrab dibandingkan sebelumnya.

Satu hal yang pasti, Rafly benar-benar orang yang introvert. Meski kami telah beberapa kali ngobrol tentang berbagai hal, tetap saja aku belum tahu sejarahnya. 

Walau aku satu-satunya teman di sekolah yang paling dekat dengan Rafly, tapi dia tetap tak mau membuka diri. Dia hanya bicara tentang hal-hal umum saja. Bila sudah bicara menyangkut dirinya, paling banter dia cuma tersenyum.
Mau tak mau aku jadi penasaran.

7 hari dia dirawat, hampir tiap hari aku mengunjunginya. Tak ada teman lain yang menjenguk karena dia memang minta untuk dirahasiakan dari mereka.
Aku tidak tahu apakah Rafly menyadari perhatianku yang agak berlebihan. Mudah-mudahan dia mengira hanya karena aku adalah ketua kelas dan teman sebangku. 

Yang datang cuma BANG ARIF.  Kami bertemu beberapa kali dan aku mulai sedikit akrab juga dengan dia.
Bang Arif juga yang kuajak untuk menjemput saat Rafly telah diperbolehkan pulang ke rumah untuk rawat jalan, tentu naik mobilku.

Dan sejak itulah Bang Arif sepertinya menyadari kalau aku bukan ‘sekedar’ teman sekolah Rafly, tapi dia juga melihat kalau aku adalah teman ‘dekat’ yang ‘peduli’ terhadap Rafly.

  *********** 

Dan 3 hari kemudian, saat pertama kali Rafly masuk sekolah, aku diliputi oleh rasa SENANG yang aneh. Mirip dengan perasaan yang kurasakan saat bertemu dengan saudara dekat yang terpisah jauh. Hanya saja perasaan yang kurasakan pada Rafly lebih MANIS.

Saat dia muncul dipintu kelas, aku berteriak keras memanggil namanya dan BERLARI menyongsongnya. Dua tanganku menggamit satu lengan Rafly dan membimbingnya ke bangku tempat kami biasa duduk.

Semua temanku yang lain BENGONG KAGET.

Bahkan Rafly sendiri tampak luar biasa JENGAH. Wajahnya sontan memerah.
"Loe apa-apaan sih?. Semua pada ngeliatin tuh!" gerutunya.

Aku jadi sadar dengan reaksiku yang sedikit ‘over-acting’(?!).
Dan tak bisa kuhindari, akhirnya Rafly juga menyadari kalau keakraban semacam itu merupakan hal yang TIDAK BIASA dan agak BERLEBIHAN.
Aku sempat bengong, tapi akhirnya aku tak acuh, meski semua teman2 yang lain memperhatikan kami dengan pandangan penuh TANDA TANYA. Untungnya, teman-temanku tidak menduga macam-macam, dikiranya karena aku teman sebangku Rafly.

Mereka hanya heran melihatku yang punya reputasi bagus dan disegani, kok bisa akrab dengan PREMAN seperti Rafly.  Tapi aku tak perduli. Pokoknya waktu itu aku benar2 merasa nyaman bersama Rafly, dan aku ingin tahu lebih banyak tentang dia..!.




Sejak itulah kami banyak menghabiskan waktu bersama di sekolah. Hanya di sekolah.
Rafly selalu menolak saat kuundang ke rumahku. Kalau aku hendak maen ke rumahnya, dia selalu menghindar. Jelas saja, aku semakin ingin tahu.

Apa lagi akhir2 ini Rafly jadi agak ANEH.
Dia sering banget terlihat kecapekan. Bahkan tertidur ketika bel istirahat belum berbunyi.
Tiap kali kutanya, dia cuma TERSENYUM.

Satu minggu kemudian ABI (ayahku) memberitahu bahwa BEASISWA yang beliau ajukan untuk Rafly ke komite sekolah, disetujui.
Waktu itu hari Minggu siang. Karena tak sabar untuk memberitahukannya pada Rafly, aku segera meluncur ke rumahnya.

Rumah Rafly sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan.
Beberapa kali ketukanku tak ada yang menjawab. Untungnya, salah seorang tetangga Rafly lewat. Beliau memberitahuku kalau Rafly sedang ‘BEKERJA’ di BENGKEL Bang Arif.

Bekerja?. Tentu aku sedikit terheran-heran. Tapi aku segera menanyakan letak bengkel itu padanya.


  


*KEHIDUPAN RAFLY*

Bengkel Bang Arif terletak sekitar 1 km dari sana.  Aku langsung meluncur, tapi tidak serta merta berhenti di depan bengkel. Kuparkir mobilku sekitar 20 m darinya dan melihat keadaan dari kejauhan.
Rafly ada disana. Sedang mengotak-atik sebuah mobil.

Penampilannya sama dengan montir-montir di bengkel kecil yang biasa kulihat di pinggir jalanan. Dengan baju dan celana lusuh dan kotor oleh gemuk dan oli. Wajahnya yang TAMPAN juga tersamar oleh coreng moreng.

Kulihat Bang Arif berada disampingnya. Sepertinya mereka sedang membicarakan masalah mobil itu. Rafly kulihat mengangguk-angguk, lalu ia nyelonong kebawah kolong mobil.

Satu lagi hal baru tentangnya yang kuketahui. Diikuti dengan berbagai macam pertanyaan baru.
Apa benar dia bekerja?. Atau cuma belajar?.
Apa sebenarnya hubungannya dengan Bang Arif?.
Apakah pekerjaan ini alasan dia menolak semua undanganku?.

Aku tak tahu jawaban dari semua itu, tapi aku berniat untuk mencari tahu.
Dengan nekat, kuarahkan mobilku kesana.

"Bang Arif!" panggilku sembari membuka pintu mobil. "Saya mau ganti oli mobil nih!. Bisa bantu?" pintaku menghampirinya yang terlihat sedikit kaget.

"Lhoo. . . Dhek Dimaz. Sendiri?" tanya Bang Arif balik.

"Iya Bang. Ini, mau ke rumah Rafly. Jadi sekalian ganti oli disini. Dapet rekomendasi dari orang. Katanya bengkel Bang Arif bagus. Kali aja dapet diskon” dustaku lancar, meski dalam hati aku heran dengan ide mendadak yang kudapat.

"Halah!. Bisa aja. Boleh deh. Nanti saya diskon. Kalau nyari RAFLY, tuh!, dia dibawah!" sahut Bang Arif menunjuk ke bawah.

Perlahan Rafly muncul dari kolong mobil.

Langsung aku terkesiap karena melihatnya BERTELANJANG DADA!.

Itulah pertama kalinya dia telanjang dada dihadapanku. Selama ini dia selalu berpakaian lengkap, apalagi dia hampir tak pernah ikut kegiatan olah raga di sekolah.
--Oohh, ternyata dia menyembunyikan tubuh INDAH yang terlihat atletis. Tubuh yang MENYEMPURNAKAN wajahnya yang TAMPAN.

“KOK NGELIAT GUA SAMPE SEGITUNYA?” tegurnya saat dia memegoki pandangan mataku yang melotot.

Otomatis wajahku merah karena malu kepergok.

"NGAPAIN SIH KESINI?" tanyanya sedikit menggerutu.
Bibirnya cemberut tak senang, dan dia tak mau memandangku. Malah melihat mobilku.

"Lho?. Kok lu JUTEK gitu?. Emang kenapa?. Gue kesini kan mau periksa mobil gue. Bang Arif aja gak nyolot gitu. Ya kan Bang?" belaku mencari dukungan.

"Pasti!" sahut Bang Arif spontan dengan senyum terkembang, membuat Rafly ngedumel gak jelas.
"Kalau gitu, biar Rafly aja yang ngurus mobil Dhek Dimaz ya?" sambung Bang Arif.

Aku mengangkat bahu dan menyerahkan kunci mobilku pada Rafly.
Dia langsung menyambarnya, masih cemberut dan tak mau melihatku.

"Hey!. Kalo belum sebulan mobil gue udah rewel lagi, gue tuntut elu ya?. 3 kali servis gratis!" godaku geli melihat kekesalannya. Apalagi saat dia kembali ngedumel gak jelas sambil berlalu.

"Sama pelanggan harus senyum Wan!" goda Bang Arif yang jadi ikut-ikutan geli melihatnya.

"Iya!. Bikin males dateng aja!" imbuhku.

"SABODO..!" umpat Rafly pelan.

Bang Arif tertawa kecil. "Kalau gitu, duduk dulu Dhek Dimaz?. Mau minum apa?"

"Agak laper nih Bang. Tempat makan yang enak dimana ya?" tanyaku.
Sekali lagi, ide dadakan muncul di otakku.
Aku tahu, aku tak mungkin mendapatkan apapun kalau aku ngomong dengan Rafly. Tapi mungkin aku bisa mendapatkannya ‘bocoran’ tentang Rafly dari Bang Arif. Jadi aku perlu bicara berdua dengannya.

"Kalau restoran sih, agak jauh... Saya juga gak tau tuh, mana yang enak. Biasanya saya sama yang lain makan di warung sebelah."

Kulihat memang ada sebuah warung kecil di sebelah bengkel Bang Arif. Seumur-umur, aku belum pernah aku makan di tempat seperti itu.
"Enak Bang?" tanyaku sedikit ragu.

"Kalau buat saya sih enak aja. Gak tau kalau dhek Dimaz."

Sepertinya aku tak punya pilihan lain. "Boleh deh Bang” putusku pasrah.

"Ayo saya temenin. Yang jual namanya Bu Sumilah. Asli orang Surabaya,kayak saya” jelas Bang Arif dan melangkah mendahuluiku.


  

*BANG ARIF BERCERITA*

Yang namanya bu Sumilah ternyata wanita berusia 40 tahunan yang memiliki logat bicara lucu. Meski asli Surabaya, lingkungan dia adalah orang2 yang datang dari Madura. Dan orangnya super ramah. Beliau menyambut kami dengan suara cemprengnya.

Bang Arif memesankanku kari ayam.
"Masakan kari ayam bu Sumilah enak banget lho Dhek” ujar Bang Arif berpromosi.

Aku cuma mengangguk pasrah. Apa aja deh. Yang penting kami bisa bicara.
"Bang Arif ikut temani saya makan yah?. Sekalian ada yang mau saya omongin” pintaku.

Bang Arif tersenyum paham. "Tentang Rafly kan?" tanyanya langsung.
--Kok dia dia bisa MENEBAK bahwa tujuanku satu satunya adalah mencari tahu lebih banyak tentang Rafly??.

Karena sadar tak ada gunanya berbohong, aku mengangguk membenarkannya.

"Apa yang ingin Dhek Dimaz ketahui?" tanyanya

"Banyak. Tapi kita bisa mulai dengan apa HUBUNGAN Bang Arif dan Rafly. Kalau Bang Arif gak keberatan” pintaku.

"Sebenernya Rafly pernah berpesan agar saya tidak mengatakan apapun pada Dhek Dimaz.Tapi.. , saya yakin Dhek Dimaz punya ITIKAD BAIK dan tidak ada maksud-maksud LAIN” kata Bang Arif dengan mata menyelidik.
Aku terkesiap mendengar kalimat terakhir Bang Arif dan ingin menanyakan maksud ucapannya.

Tapi Bang Arif keburu memulai ceritanya.
"Tidak ada hubungan darah antara kami. Tapi Bang Arif kenal baik dengan almarhum bapak dan ibu Rafly. Mereka banyak membantu Bang Arif waktu pertama kali datang kesini. Mereka juga yang dulu melamarkan istri saya. Mereka benar-benar orang yang baik. Tak adil rasanya kalau mereka harus meninggal dalam kecelakaan”.
“Saat meninggal, mereka hanya MEWARISKAN rumah itu dan sedikit uang di bank”.

“Tepat 7 hari setelah orangtuanya meninggal, dia datang kerumah dan bilang ingin kerja di bengkel ini. Sebenarnya saya sudah mengatakan kalau saya tak ingin dia kerja, dan saya bersedia membiayai sekolahnya. Dia menolak dan ngotot mau bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri”.

“Dia berterima kasih atas niat baik saya,tapi dia sadar kalau kami tidak memiliki ikatan darah. saya tidak punya kewajiban atas dirinya. Dia tak ingin membebani saya. Dia ingin bekerja dan berusaha sendiri. Kalau saya tak mau menerimanya, dia akan melamar di tempat lain”.
“Kamu mungkin sudah paham dengan sifat keras kepalanya. Jadi. . . saya menerimanya. Biasanya dia hanya bekerja disini. Tapi KARENA ADA DHEK DIMAZ, sekarang di malam hari Rafly juga bekerja di sebuah rsetoran di kota yang buka 24 jam".
Penjelasan terakhir itu tentu saja membuatku kaget.
"KARENA ADA SAYA gimana Bang?" tanyaku super heran.

Bang Arif tersenyum.
"Dia tahu bahwa Dhek Dimaz yang MEMBANTU membayar biaya rumah sakit kemarin. Dan dia ingin segera mengembalikannya."

Aku tergagap mendengarnya: “T - ta-tapi. . . "

"Saya tahu Dhek Dimaz tidak menginginkannya” potong Bang Arif menenangkanku yang jadi gugup.
"Tapi anak itu bersikeras ingin mengembalikannya. Sebenernya saya khawatir. Dia bisa sakit kalau terus begini. Dia hampir-hampir tak punya waktu untuk beristirahat."

“Masa sampai segitunya Bang?”

“Ya, Rafly adalah tipe orang yang TAKUT BERHUTANG BUDI.  Dia sering merasa HUTANG-BUDI harus DIBAYAR – paling tidak, untuk membalas budi”
Aku menghela nafas mendengarnya. Tipikal khas Rafly.
"Saya akan coba berbicara dengan dia” kataku pelan.

Bang Arif mengangguk paham.
"Semoga Dhek Dimaz bisa melunakkannya. Kalau gitu silahkan makan dulu. Saya tinggal ya?. Saya masih kenyang” pamitnya.

Lalu Bang Arif pergi meninggalkanku untuk makan dan berpikir.
--Dan aku punya 1 komentar tentang masakan Bu Sumilah.  SUPER PEDAS!!

Bu Sumilah mengatakan kalau Bang Arif sudah membayar makananku, tapi aku bersikeras membayar sendiri dan meminta beliau mengembalikan uang Bang Arif.
Aku segera keluar dengan membawa sebotol minuman soda dingin, menghampiri Rafly yang sedang memeriksa mobilku.
"Selesai?" tanyaku dan mengangsurkan botol itu padanya.

Untuk sejenak Rafly cuma melihatnya,tapi ia lalu menerimanya.
"Gak ada masalah dengan mobil loe. Oli nya juga masih bagus. Minim baru seminggu kemarin ganti. Kesimpulannya, BUKAN mobil ini alasan loe kemari.” tukasnya singkat.

Aduh!. batinku.

Rafly minum sebentar. "Jadi. . . ada apa sebenarnya lo kesini?" tanyanya langsung tanpa melihatku.

Lama-lama aku jadi agak kesal dengan sikapnya. Tiap kali ngomong, dia gak pernah mau melihatku. Selalu menatap sesuatu yang lain.
"Tadinya mau kasih lu berita bagus. Tapi berhubung lu jutek abis dan gak mau ngeliat muka gue, sebaiknya gue BATALIN aja. Gue pulang dah." aku ngeloyor cepat
“Bang Arif...!!” kataku mencari Bang Arif yang ternyata mendengar panggilanku dan segera keluar.
"Berapa Bang?"

"Udah bawa saja. Kunjungan pertama gratis. Lagian, gak ada yang perlu diganti/diperbaiki” jawab Bang Arif.

Aku nyengir mendengarnya: “Makasih Bang. Pulang dulu ya?" pamitku

“Ya, silahkan Dhek.. Sering seringlah datang kemari.. Dhek Dimaz juga SENANG kan kalau bisa sering KETEMU Rafly?”
Aku langsung masuk ke mobil.
--Heran, kenapa Bang Arif menduga aku “SENANG” kalau sering ketemu dengan Rafly?.

Tapi lalu sadar kalau KUNCI masih dipegang oleh Rafly.

Dia yang masih diam cemberut dan tak mau melihatku, berdiri disamping jendela mobil.
Tanpa bicara aku menadahkan tangan, meminta kunci.

"Ada apa datang kesini?" Rafly mengulang pertanyaannya lagi tanpa memberikan kunciku.

"Gue udah bilang BATAL kan?. Mana kuncinya!" desakku dengan nada datar.

Kulihat dia menghela nafas sebentar.
"Baiklah. Maaf. Ada apa?" tanyanya lagi melunak.

"Bisa melihat gue kalo sedang ngomong?" pintaku yang sedikit terganggu karena dia jelas menghindar.
Kali ini dia langsung melihat ke mataku dan menatapku tajam.

Ngambekku memang agak OVER-ACTING dan sedikit LEBAY, tapi justru waktu itulah aku baru benar-benar tahu kenapa teman-teman yang lain menganggap Rafly menakutkan.
Sorot matanya beneran bisa membuat keder. Apa lagi kalau dia kelihatannya marah seperti sekarang. Aku sendiri hampir membuang muka, tapi setengah mati menahan diri.

"Sebenernya mau loe apa sih?" tegurnya kesal.
"Loe pikir gua harus gimana?. Kalo elo jadi gua, apa loe bisa tenang-tenang saja saat gua melihat elo pake baju gembel dan muka coreng moreng gini?"

Aku melongo mendengarnya. "Terus kenapa?. Apa yang salah dengan itu?" bantahku.
"Toh elu melakukan pekerjaan yang halal. Daripada gue melihat lu pake baju keren tapi nyopet?"

"Loe bener-bener tau cara bikin orang ngerasa rendah ya?" katanya
Jelas aku kaget.
"Rendah?. Siapa yang ngerendahin?. Gue gak pernah berniat gitu kok!. Elu aja yang ambil kesimpulan sendiri. Gue gak pernah mempermasalahkan elu siapa, kerja apa atau pake apa. Apa pentingnya?. Elu sendiri yang ribut kan?”.
“Kalo lu menilai orang dengan cara seperti itu, salahin diri lu sendiri dong yang picik. Apa hubungannya dengan gue?" berondongku yang akhirnya jadi bener-benar jengkel dengan reaksinya.

"Coba tempatkan diri loe dalam posisi gua." katanya

"ELU JUGA. Tempatkan diri lu dalam posisi gue!" balasku semakin lebay.

"Kalo gua ada dalam posisi elo, gua gak akan merasa rendah dan terhina!" sahutnya dingin dan meletakkan kunci mobilku di dashboard.
Kusandarkan tubuhku di kursi mobil dan mengusap wajahku gundah.
--‘Kok malah begini sih?. Aku kesini kan mau kasih berita bagus. Malah berantem gak jelas gini’, batinku.

Kuhembuskan nafas kuat-kuat untuk menahan diri.
"Gue gak pernah ada maksud buat bikin lu merasa rendah, apa lagi terhina. Gak sedikitpun. Maaf kalo elu ngerasa begitu” pintaku padanya dan memasukkan kunci untuk menghidupkan mobil.

Rafly masih berdiri disamping jendela dan tak mau melihatku.

"Satu lagi. Komite sekolah telah MENYETUJUI pengajuan proposal BEASISWA buat elu” ujarku.

Lalu tanpa bicara lagi, aku melajukan mobil meninggalkannya tanpa menoleh lagi.



*MATA YANG INDAH*

Esok harinya, aku sengaja mengacuhkan Rafly. Tak sekalipun aku bicara atau melihatnya.
Beberapa teman di kelas menanyakan perubahan sikapku. Tapi aku hanya tersenyum tanpa memberi pejelasan.

Pada saat istirahat, Rafly mendapat panggilan oleh wali kelas. Sepertinya beliau ingin memberitahu tentang beasiswa itu secara pribadi padanya.
Aku tetep pura-pura acuh tak peduli, hingga akhirnya bel pulang berdering.

"Gua mau ngomong” kata Rafly singkat.
Tiba-tiba saja dia sudah berada di sebelahku. Padahal aku sendiri masih mebereskan barang-barangku yang bertebaran di meja.

Dua temanku yang tadinya mau kuajak pulang bareng tampak WASPADA. Mereka pasti berpikir kalau aku dalam BAHAYA.

"Kalian pulang duluan aja” kataku pada mereka dan tersenyum menenangkan.
Meski masih terlihat cemas, akhirnya mereka pergi.

"Ada apa?" tanyaku pada Rafly sembari kembali membereskan barang-barangku tanpa melihatnya.

"Elo yang mengajukan beasiswa itu?" tanya Rafly langsung.

"Bukan!" jawabku langsung.
"Gue cuma mengusulkan. Salah seorang anggota komite dan wali kelas kita yang mengajukan. Dan.., SUPAYA LU nggak lagi merasa direndahkan.... elu..” aku menekan kalimat terakhir,
". .Elu harus tahu. Bahwa sebelum bisa mendapatkan beasisiwa itu, pihak sekolah telah memeriksa elu. Bukan hanya dari segi ekonomi, tapi juga prestasi akademis. Jadi jika komite sekolah udah menyetujuinya, itu berarti lu layak mendapatkannya. Hal ini gak ada hubungannya dengan keputusan perorangan. Itu mutlak keputusan seluruh anggota komite." jelasku.

Tak ada reaksi dari Rafly.
"Ada lagi?" tanyaku tanpa melihatnya. Mejaku sudah bersih.

"Loe nggak melihat gua!" katanya, lebih ke arah menegur daripada bertanya.

"Lu yang ngajarin gue!” sahutku dengan gaya ngambek dan menyampirkan tas ku.

Aku bangkit untuk pergi, tapi Rafly menahan tanganku.
"BISA MELIHAT GUA SEBENTAR..?" pintanya.

Sebenarnya aku ingin menolak. Tapi nada suaranya benar-benar serius.
Pelan aku berbalik dan melihatnya. Aku menatap langsung ke matanya yang juga melihatku datar.

"TERIMA KASIH MAZ...!" katanya pelan sambil tetap memegang tanganku.
Ooooh... Selain KESUNGGUHAN dan ketulusan, aku tak melihat yang lainnya lagi di matanya.
"Sama-sama!" sahutku singkat lalu MENGIBASKAN pegangannya untuk segera pergi dari situ.

"GUA BELUM SELESAI!" tukas Rafly cepat dan kembali dia menahanku.

"APA LAGI...?" tanyaku tak sabar tanpa berbalik.

"Errrr.... Maafin gua yaa Maz” pintanya lirih.
Nadanya yang terdengar begitu aneh mengusikku.

Aku berbalik perlahan dan kembali menatap langsung matanya.

Dan akupun TERPERANGAH!!.
Ooh, MATA yang INDAH itu..!.
Belum pernah seumur hidupku, seseorang memandangku seperti cara Rafly memandang aku sekarang.

Tatapan Rafly begitu DALAM dan penuh makna. Aku tak bisa menjabarkannya dalam kalimat, tapi yang jelas, aku tak bisa lari dari matanya.
--Apakah itu hanya perasaanku saja?.

Yang jelas, semua yang ada disekelilingku jadi lenyap dan terasa tak berarti. Seakan-akan semuanya hanya suara latar dari sebuah film murahan tanpa makna.
"Dimaz ..?"

Tegurannya membuat kesadaranku kembali. Cepat aku mengerjapkan mata dan berpaling.
Untuk beberapa saat lamanya, aku harus berusaha untuk mengumpulkan lagi kepercayaan diri dan gengsiku yang tadi sedikit turun. Aku harus menarik nafas dalam-dalam agar tenang.
"Udah deh!" kataku akhirnya.

"Sepertinya loe sulit untuk memaafkan gua” katanya pelan: “Apa yang bisa gua lakukan agar loe mau?"

Kalimat terakhirnya itu memberiku IDE...
"Ada satu hal yang bisa lu lakukan agar gue bisa memaafkan elu” ujarku.

Kening Rafly berkerut heran.
"Bilang aja..!"
Aku menatapnya serius agar dia tahu aku tak main-main.
"Berhentilah bekerja di restoran itu!. Berhenti kerja gila-gilaan hanya untuk mengumpulkan pengganti biaya rumah sakit. Udah cukup elu bekerja di Bang Arif. Konsentrasi aja pada studi elu. Bisa?"

Rafly terdiam untuk beberapa saat lamanya.

"Menerima bantuan dari orang lain bukan berarti lu turun derajat Raf. Hal itu cuma menunjukkan bahwa elu manusia biasa. Sama seperti yang lain. Yang juga membutuhkan orang lain dalam satu dan lain hal!" kataku lagi.

"Bang Arif yang cerita?" gumamnya pelan.

"Ga penting siapa yang cerita. Itu syarat gue untuk mau memaafkan elu!. Terima atau nggak, terserah!" putusku dan kembali hendak pergi.
Tapi sekali lagi, langkahku terhenti karena TANGANKU kembali DIPEGANG untuk menahanku.
--Beberapa kali tanganku dipegangi oleh seorang cowok, emang agak janggal, tapi dia memang tampak serius.

Rafly terlihat berpikir.
Sesekali ia menggigit bibirnya dan menghela nafas. Sampai akhirnya dia mengusap wajahnya, kalah..!.
"Baiklah!. Gua akan berhenti” putusnya pelan.

Aku tersenyum mendengarnya.
Sebuah REKOR bisa mengalahkan Rafly. Aku yakin bukanlah hal mudah bagi dia untuk mau menuruti saranku.

"Kalo begitu beres!. Gue pulang dulu. Ada bimbingan belajar. Dan sore nanti gue mau MAIN lagi ke RUMAH LU. Itu syarat tambahan buat lu. Boleh kan?".
"Tapi gua baru pulang kerja dari Bang Arif jam 4." katanya

"OKE..!. Gue kesana sesudahnya!. Sekarang gue pulang dulu” pamitku dan pergi dengan senyum senang.
--Duhh... senangnya aku saat Rafly membolehkan aku untuk main lagi ke rumahnya.
 
 
Di Sadur dari ceritapanaslelaki.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment