Part 1 : “RAFLY (TEMAN SEKOLAH DI SMU)”
Sejak awal masuk sekolah, RAFLY sudah menjadi
topik pembicaraan. Baik oleh guru, kakak kelas, sampai teman satu angkatan.
Ceritanya, pada waktu masa orientasi dia datang
terlambat, dan seorang kakak kelas yang angkuh, sok-memarahi Rafly
habis-habisan.
Pertama sih Rafly sangat cuek. Tapi kemudian kakak
kelas itu semakin menjadi jadi dan berkata: "Loe gak pernah diajari
sopan santun sama ORANG TUA LOE ya?. Mereka gak becus mendidik loe hah?. Gak
bisa ngajarin elu baca jam dan.. ... “.
Rafly langsung MENGHAJAR senior itu sebelum dia
bisa menuntaskan kalimatnya tadi.
Terjadi kehebohan yang hebat hingga akhirnya para
guru ikut turun tangan.
Hebatnya,selama menjalani pemeriksaan, tak sepatah
katapun keluar dari mulut Rafly untuk membela diri. Dia benar2 bungkam seribu
bahasa.
Karena tak bisa mendapat informasi darinya, para
Guru mencoba bertanya pada kami, teman satu ruangnya. Mulanya tidak ada yang
berani bicara.
Para guru sudah hampir mencoret nama Rafly dari
daftar siswa baru.
Hingga akhirnya AKU tak tahan dan MAJU. Aku
ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan perkiraanku kenapa Rafly bisa ngamuk.
Bahwa Rafly marah karena kakak kelas itu MENGHINA orangtuanya.
Keputusan akhir, para Guru memutuskan untuk tidak
memperpanjang urusan itu.
Sejak kejadian itu, Rafly jadi sosok yang DITAKUTI
di sekolah.
Jarang ada teman yang mau berbicara dengannya.
Baik cowok ataupun cewek. Kecuali saat mereka benar-benar butuh dan perlu
bicara dengannya. Itupun biasanya hanya karena ada titipan atau pesan dari
guru. Selain dari itu, mereka lebih suka membiarkannya sendiri. Mereka sungguh
NGERI padanya. Hal itu ditunjang oleh penampilan dan sikap Rafly yang cukup
mengintimidasi.
Rafly bertubuh tinggi atletis untuk ukuran anak kelas 1 SMA, padahal dia hampir tidak
pernah ikut kegiatan olah raga di sekolah. Wajahnya sebenarnya tampan, bahkan
‘cute’, -tapi berkesan dingin dan tajam. Akibatnya malah jadi nyeremin!.
Orang pasti keder melihatnya. Belom lagi kabar
bahwa dia berhasil NGALAHIN LIMA orang kakak kelas yang mencoba mengeroyoknya.
Buntut dari peristiwa orientasi waktu itu. Orang pasti mengkeret kalau Rafly
sudah menatap mereka dengan tajam. Kebanyakan dari mereka pasti lebih memilih
ngacir tanpa menunggunya bersuara.
Maka dengan sendirinya Rafly TERKUCILKAN.
Tapi sepertinya dia tidak perduli. Rafly cenderung
acuh. Malah seolah olah menikmati kesendiriannya.
Yang membuatku salut, pada saat kenaikan ke kelas
2, dia ternyata masuk dalam 10 BESAR kelas. Padahal seingatku, dia tidak
terlalu aktif di kelas dan tidak pernah ikut ekskul. Malahan selalu datang
mepet ke sekolah. Setelah jam istirahat
terakhir, aku jarang melihatnya duduk tegak menyimak pelajaran. Lebih sering
dia TERTIDUR di bangkunya. Siapa sangka dia bisa masuk dalam 10 besar kelas.
Di kelas 1, aku memang sekelas dengan dia, walau
awalnya hanya bersifat sebagai teman biasa, tapi pelan pelan, mulai timbul RASA
KAGUMKU dan perasaan simpati yang berbeda terhadap dirinya.
Bukan saja karena dia termasuk 10 besar, tapi yang
jelas aku menyukai keunikan karakternya, juga PENAMPILAN fisiknya, dan mungkin
tampangnya yang ‘cute’ itu.
Setelah naik
ke kelas 2, aku ditunjuk menjadi KETUA KELAS, lagi lagi aku duduk sebelah
dengan Rafly.
Di kelas dua, Rafly tetap konsisten dengan
pembawaannya yang cuek dan penyendiri. Jadi baik aku, ataupun teman2 sekelas
yang lain memperlakukannya seperti biasa. Walau aku kebetulan duduk sebangku,
tidak berarti sikapnya lebih ramah kepadaku.
*MENEMUI RAFLY*
Suatu saat, 3 hari berturut-turut Rafly absen
tanpa alasan yang jelas.
Pada hari ke-4 wali kelas kami memintaku untuk
menyampaikan surat panggilan ke rumahnya, karena aku adalah KETUA KELAS. Beliau
memberiku sebuah alamat.
Sebagai ketua kelas aku tentu tak dapat menolak
tugas wali kelasku, maka sore harinya dengan diantar sopir, aku mencari
rumahnya.
Cukup sulit. Dan butuh waktu 2 jam bagi kami untuk
menemukannya. Selain karena letaknya yang 4 km dari sekolah, rumah Rafly juga
sedikit tersembunyi.
Dia tinggal di daerah pinggiran yang sebenarnya
cukup ramai dan padat. Kebanyakan, daerah yang sedikit kumuh itu dihuni oleh
para pendatang dari luar pulau. Untuk ke rumah Rafly, kami harus memarkir mobil
di tepi jalan raya dan masuk ke gang yang hanya cukup dilewati oleh 2 buah
sepeda motor. Dan sedikit berbelok-belok.
Akhirnya setelah bertanya pada beberapa orang,
barulah kami mendapat kejelasan lokasi rumah Rafly.
Dan pergi kesanalah kami, sampai di depan sebuah
rumah kecil yang luasnya cuma 6x8 meter.
Aku sedikit ragu untuk mengetuk pintu melihat
suasananya yang sunyi. Rumah yang terbuat dari kayu itu tampak lengang tak
berpenghuni. Suasana sudah gelap, tapi tak ada satu lampu pun yang menyala
disana.
Aku dan sopirku sudah hendak pergi ketika seorang
pria berusia 30 tahunan mendekat.
"Maaf Dik. Nyari siapa ya?" sapanya dengan logat Jawa.
Untuk sejenak, aku cuma saling pandang dengan
sopirku, ragu. "Anu Pak. Saya nyari rumah teman saya. Rafly Bayu Kurniawan”
kataku akhirnya.
"Ooh RAFLY?. Lha bener ini rumahnya” tunjuknya ke rumah itu.
"Ada kok di dalam. Mungkin ketiduran. Dia kan lagi
sakit. Sudah 3 hari ini gak bisa apa2. Kasihan, gak ada yang jaga."
"Sakit?. Gak ada yang jaga?" gumamku tak mengerti.
"Lho?. Ndak tahu tho?. Orang tua Rafly kan sudah
lebih dari setahun meninggal. Kecelakaan. Jadi dia tinggal sendiri”.
Aku tercenung, tak mampu membayangkan bagaimana
seorang murid SMA harus hidup sendirian ditinggal oleh kedua orang tuanya dan
tanpa sanak saudara.
“Ayo masuk. Pas bener adik kesini dan ketemu saya. Saya
lagi nganter bubur ini buat dia. Ayo..."
Pria itu mengajak aku dan membuka pintu yang
ternyata tak dikunci. Tampaknya dia terbiasa
dengan rumah itu. Dia segera menghidupkan lampu dan mempersilahkanku duduk,
lalu masuk ke dalam.
Aku diam disana dan menatap ke sekeliling ruangan.
Ruang tamu itu begitu sederhana. Hanya ada sebuah
meja dan empat kursi kayu. Tak ada perabotan atau hiasan di dindingnya. Tak ada
foto yang dipajang. Tak ada sedikitpun petunjuk yang bisa kutangkap tentang
kehidupan Rafly ataupun hubungannya dengan pria tadi.
***********
Tak lama kemudian mereka keluar. Pria tadi memapah
RAFLY. Wajah TAMPANNYA kali ini terlihat
pucat dan tubuhnya tampak lemah, kusut dan kuyu. Begitu tak bertenaga. Matanya
yang biasanya tajam dan serem terlihat sayu dan sedikit mengantuk.
Melihatnya seperti itu, aku cepat bangkit dan
membantunya untuk duduk. Meski terlihat sedikit kaget, Rafly diam saja
membiarkan aku membantunya.
"Bener gak apa-apa saya tinggal Wan?" tanya si bapak-bapak. Pertanyaan
dia sedikit mengherankanku.
"Iya Bang. BANG ARIF pulang saja. Kan katanya ada
garapan yang harus diambil besok pagi. Saya sudah mendingan kok Bang. Cuma
sedikit lemas. Kan baru bangun” jawab Rafly dengan nada ramah dan akrab.
Baru kali ini aku mendengarnya berbicara memakai
nada seperti itu. Biasanya dia cuma ngomong dengan singkat dan dingin.
"Ya sudah kalau gitu. Dhek Dimaz nanti tolong Rafly
kalau butuh bantuan kembali ke kamar ya?" pinta si Bapak yang dipanggil BANG ARIF tadi padaku.
"I-iya Pak. Eh... Mas..” jawabku kikuk.
Dia hanya tersenyum.
"Panggil BANG ARIF aja kayak Rafly. Ya sudah,
permisi. Assalamualaikum” pamitnya, dan berlalu setelah kami menjawab salamnya.



Untuk beberapa saat lamanya, kami diam.
Aku jadi merasa canggung dan bingung harus
mengatakan apa. Lucunya, hampir bersamaan kami membuka mulut untuk mengatakan
sesuatu.
"ADA APA KESINI..?" tanya Rafly akhirnya setelah
kebisuan yang meresahkan. Nadanya kembali dingin seperti biasa.
"Anu. . . ada titipan dari wali kelas” kataku dan mencoba mencairkan
suasana dengan sedikit senyum.
Rafly tak membalasnya. Dengan diam dia mengambil
amplop yang kuulurkan. Dia hanya menghela nafas setelah membacanya sekilas.
"Wali kelas nggak tahu tentang keadaan lu Raf.
Karena itu beliau mengirim surat. Jangan khawatir, gue udah coba jelaskan dan.
. ."
"GAK PERLU..!" potong Rafly membuatku langsung
terdiam. "Besok gua akan masuk!"
"Jangan maksa diri Raf. Elu masih lemes gini” saranku.
"Gua udah sembuh!" potongnya, yang membuatku
kembali terdiam.
Kecanggungan kembali menggelayut. Aku sendiri
bingung, karena sepertinya tak ada lagi yang bisa kukatakan.
Aku berdehem, mengumpulkan suara. "Kalau
gitu. . ., gue permisi dulu ya?" kataku akhirnya.
Karena Rafly tak menjawab, aku pun bangkit: “Elu
mau gue bantu masuk kedalam atau. . .”
"Gua cuma sakit-kurang enak badan. BUKAN
cacat-tubuh!!" tukasnya sedikit tajam membuatku tersipu.
"Sorry....!. Kalo begitu, gue permisi” pamitku dan cepat-cepat pergi.
***********
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tak bisa
tidur semalaman memikirkan seseorang.
Aku mengingat-ingat potongan-potongan cerita yang
disampaikan oleh BANG ARIF tentang RAFLY. Bahwa orang tuanya telah meninggal,
dan dia hidup sendiri. Mungkin inilah alasannya kenapa waktu orientasi dulu, Rafly
langsung menghajar senior yang menghina orangtua nya.
Masih untung ada rumah peninggalan orang tua dan
sedikit tabungan. Tapi tak terbayangkan anak remaja harus hidup sebatangkara,
Lalu siapa yang menghidupinya?. Menyekolahkannya?.
Memenuhi dan menyediakan kebutuhannya?. Apa lagi sekarang saat Rafly sakit.
Siapa yang akan memasak dan menjaganya?.
Semua hal itu berkecamuk dalam pikiranku hingga
fajar hampir datang.
*SAKIT*
Keesokan harinya, ternyata Rafly tetap tidak masuk
sekolah.
Saat istirahat, aku dipanggil oleh wali kelas.
Segera saja kuberitahukan apa yang kuketahui. Bahwa Rafly sakit dan orang
tuanya telah meninggal.
Beliau sepertinya mengerti dan mengatakan akan
melakukan sesuatu untuk memperbaiki catatan Rafly di sekolah.
Aku sendiri, begitu usai sekolah usai langsung
menuju tempat praktek dokter langganan keluargaku dan mengajaknya ke rumah
Rafly.
Seperti sebelumnya, rumah Rafly tampak lengang
seperti tak berpenghuni. Setelah mengetuk dan mengucapkan salam beberapa kali,
tapi tak ada sahutan, akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka pintu yang
ternyata tak dikunci.
Ruang depan kosong, jadi aku ke dalam.
Aku menemukan Rafly tergolek PINGSAN di lantai
kamarnya. Ada bekas muntahan di dekatnya.
Sedikit kehebohan terjadi!.
Dokter segera memeriksa dan mencoba
menyadarkannya. Karena Rafly terlalu lemah, kami memutuskan untuk langsung
membawanya ke rumah sakit. 3 jam aku menungguinya.
Yang kulakukan bukan bagian dari tugasku sebagai
ketua kelas, tapi lebih didorong oleh keinginan untuk membantu Rafly, teman
sebangkuku, tapi juga orang yang diam-diam kusukai.
***********
Saat Rafly sadar dan tahu sedang berada dimana,
dia marah dan ngotot pulang. Tentu saja pihak rumah sakit menahannya.
Karena dia terus berontak, Dokter memberinya obat
penenang.
Tapi sebelum tertidur dia sempat menggumamkan
tentang UANG dan BIAYA perawatan. Sepertinya, itu adalah alasan kenapa dia
ingin segera pergi.
Keesokan harinya saat aku kembali, Rafly terbaring
tenang meski aku bisa melihat gurat kekesalan di wajahnya. Untuk beberapa saat
kami cuma saling diam.
"Dokter bilang, lu gak boleh makan yang keras-keras
untuk sementara waktu” kataku, mencoba memulai percakapan.
"Jadi..... , gue bawakan roti dan sedikit makanan
ringan yang lunak. Juga susu. Gue udah tanya Dokter, asal bukan susu coklat, lu
boleh meminumnya."
Tak ada sahutan.
"Mengenai biaya rumah sakit, lu gak usah khawatir” imbuhku.
"Pihak sekolah yang akan nanggung. Lu tentu tahu kalo
ada ASURANSI bagi para siswa. Jadi lu gak perlu khawatir dan. . ."
"Loe yang ngasih tau pihak sekolah?. Kenapa?" mendadak Rafly memotong
kalimatku.
Untuk sesaat aku tercenung mendengar nada suaranya
yang tidak ramah. Lebih cenderung menegur dari pada bertanya.
"Yeah. . .!.
Tentu aja. Gue ketua-kelas dan gue satu-satunya orang di sekolah yang
tahu keadaan lu kan?" tanyaku balik dan sedikit tersenyum untuk mencairkan
suasana.
Kembali tak ada sahutan dari Rafly.
Aku yang masih canggung akhirnya meraih sebungkus
roti dan membukanya.
"Coba rasain roti ini deh. Gue suka banget. Tiap
pagi gue makan ini lho!" ujarku nyengir dan mengulurkan selapis roti itu padanya.
Semula Rafly ragu.
Namun akhirnya, sesaat kemudian dia bergerak
hendak bangkit dari tidurnya. Terlihat agak susah karena ada selang infus dan
dia juga sepertinya masih lemah.
"Jangan!" kataku cepat menahannya.
"Lu tidur aja!. Masih lemes gitu. Biar gue bantu” kataku dan mencuil sedikit roti
itu dan menyorongkan ke depan bibirnya.
Rafly sedikit tertegun. Sesaat, matanya memandang
ANEH ke arahku.
Aku paham apa yang dirasakannya. Akan tampak
JANGGAL kalau aku MENYUAPINYA. Rasanya TAK BIASA menyuapi teman lelaki,
walaupun itu hanya bercanda, ataupun sedang sakit seperti Rafly.
Tapi kepalang tanggung. Lagipula keadaan Rafly
juga tidak mendukung.
Akhirnya Rafly mau membuka mulutnya meski dengan
sedikit enggan.
Aku tersenyum agar dia merasa rileks.
Rafly berdehem tanda hendak mengatakan sesuatu. "Jadi.
. . apa benar ada asuransi untuk kasus kayak gua?" tanyanya ingin
tahu.
Aku diam, tak langsung menjawabnya karena aku
tahu, kalau tidak berhati-hati, akan ada masalah baru.
"Maksud lu apa?" tanyaku balik.
"Gua tahu emang ada asuransi bagi para siswa di
sekolah kita. Tapi biasanya pihak ansuransi hanya menanggung buat insiden yang terjadi pada saat proses
belajar di sekolah. Jika terjadi diluar lingkungan dan jam sekolah, apakah itu
bukannya jadi tanggung jawab pribadi?" tanyanya.
--Seharusnya aku
tahu kalau Rafly tidak bodoh, pikirku.
Aku memang BOHONG mengenai asuransi, tapi tak
mungkin kalau aku bilang ke dia bahwa semalam aku minta bantuan ayahku untuk
menanggung biaya rumah sakit ini.
Bahkan aku juga mengambil inisiatif lebih dan
merekomendasikan pada ABI (ayahku) agar
Rafly dibantu untuk mendapat BEASISWA.
Untuk menyampaikan itu pada Rafly, aku masih perlu
waktu. Tapi bagaimanapun juga, dia layak mendapatkannya kan?. Selain karena
prestasi sekolahnya, ekonomi Rafly juga memenuhi syarat.
"Apa itu penting Raf?" aku balik bertanya sembari
menyorongkan secuil roti lagi padanya.
Rafly tak menjawab.
Dia menatapku dengan seksama, membuatku jadi
canggung dan salah tingkah.
Aku tahu orang sejenis dia memiliki gengsi dan
harga diri yang tinggi. Kalau dia tahu aku membantunya, mungkin dia akan
menolak, bahkan meledak tersinggung.
"Gua gak punya pilihan lain kan?" gumamnya kemudian dengan nada
pahit, membuatku kembali berpaling padanya.
Rafly sudah membuang pandangannya ke samping
dengan ekspresi kalah. Seperti yang kuduga, harga dirinya terusik. Dia sakit
hati.
"Gak ada manusia yang bisa hidup sendiri Raf” kataku pelan.
"Sekuat apapun seseorang, suatu saat dia akan
mencapai batasnya. Dia pasti akan berada di suatu kondisi, dimana dia harus
bergantung pada orang lain. Siapapun itu”.
“ Orang-orang besar seperti Alexander The Great, Bung
Karno, atau bahkan Nabi, gak mengubah dunia sendirian. Ada orang-orang di
samping mereka. Para sahabat, keluarga dan yang lainnya. Singkatnya, kita akan
selalu membutuhkan orang lain. Jadi. . . gak perlu merasa kalah, tersinggung.
Apa lagi. . . terhina. Hal itu benar-benar wajar kok!"
Rafly kini diam menatapku.
Aku kembali tersenyum padanya. Mencoba
menyuntikkan semangat dan kembali menyuapkan roti untuknya.
Entah kenapa ada perasaan senang bisa menyuapi
Rafly seperti ini, hingga beberapa lama kemudian, akhirnya dia menghabiskan dua
lapis roti, tak ada kata-kata yang kami ucapkan.
Setelah merasa cukup, aku pun pamit.
"DIMAZ..!" panggil Rafly saat aku hampir
mencapai pintu, membuatku kembali berbalik padanya: “...Terima kasih” katanya
pelan.
Kudengar nada kesungguhan yang TULUS dalam
ucapannya.
Aku mengangguk dan tersenyum: “Besok
gue kesini lagi. Mau gue bawakan sesuatu?"
Rafly menggeleng: “Datang saja” katanya
diiringi seulas senyum.
Mendengarnya, aku benar-benar merasa lega.
IJIN dia membuatku seakan-akan aku telah mendapat
RESTU untuk memasuki dunianya. Mendekati kehidupannya.
Kurasa, Rafly kini mulai BISA MENERIMAKU. Ahh....
Lalu aku pergi dengan senyum dibibirku.
*MENDEKAT*
Setelah itu, kami memang menjadi sedikit lebih
akrab dibandingkan sebelumnya.
Satu hal yang pasti, Rafly benar-benar orang yang
introvert. Meski kami telah beberapa kali ngobrol tentang berbagai hal, tetap
saja aku belum tahu sejarahnya.
Walau aku satu-satunya teman di sekolah yang
paling dekat dengan Rafly, tapi dia tetap tak mau membuka diri. Dia hanya
bicara tentang hal-hal umum saja. Bila sudah bicara menyangkut dirinya, paling
banter dia cuma tersenyum.
Mau tak mau aku jadi penasaran.
7 hari dia dirawat, hampir tiap hari aku
mengunjunginya. Tak ada teman lain yang menjenguk karena dia memang minta untuk
dirahasiakan dari mereka.
Aku tidak tahu apakah Rafly menyadari perhatianku
yang agak berlebihan. Mudah-mudahan dia mengira hanya karena aku adalah ketua
kelas dan teman sebangku.
Yang datang cuma BANG ARIF. Kami bertemu beberapa kali dan aku mulai
sedikit akrab juga dengan dia.
Bang Arif juga yang kuajak untuk menjemput saat
Rafly telah diperbolehkan pulang ke rumah untuk rawat jalan, tentu naik
mobilku.
Dan sejak itulah Bang Arif sepertinya menyadari
kalau aku bukan ‘sekedar’ teman sekolah Rafly, tapi dia juga melihat kalau aku
adalah teman ‘dekat’ yang ‘peduli’ terhadap Rafly.
***********
Dan 3 hari kemudian, saat pertama kali Rafly masuk
sekolah, aku diliputi oleh rasa SENANG yang aneh. Mirip dengan perasaan yang
kurasakan saat bertemu dengan saudara dekat yang terpisah jauh. Hanya saja
perasaan yang kurasakan pada Rafly lebih MANIS.
Saat dia muncul dipintu kelas, aku berteriak keras
memanggil namanya dan BERLARI menyongsongnya. Dua tanganku menggamit satu
lengan Rafly dan membimbingnya ke bangku tempat kami biasa duduk.
Semua temanku yang lain BENGONG KAGET.
Bahkan Rafly sendiri tampak luar biasa JENGAH.
Wajahnya sontan memerah.
"Loe apa-apaan sih?. Semua pada ngeliatin tuh!" gerutunya.
Aku jadi sadar dengan reaksiku yang sedikit ‘over-acting’(?!).
Dan tak bisa kuhindari, akhirnya Rafly juga
menyadari kalau keakraban semacam itu merupakan hal yang TIDAK BIASA dan agak BERLEBIHAN.
Aku sempat bengong, tapi akhirnya aku tak acuh,
meski semua teman2 yang lain memperhatikan kami dengan pandangan penuh TANDA
TANYA. Untungnya, teman-temanku tidak menduga macam-macam, dikiranya karena aku
teman sebangku Rafly.
Mereka hanya heran melihatku yang punya reputasi
bagus dan disegani, kok bisa akrab dengan PREMAN seperti Rafly. Tapi aku tak perduli. Pokoknya waktu itu aku
benar2 merasa nyaman bersama Rafly, dan aku ingin tahu lebih banyak tentang
dia..!.
Sejak itulah kami banyak menghabiskan waktu
bersama di sekolah. Hanya di sekolah.
Rafly selalu menolak saat kuundang ke rumahku.
Kalau aku hendak maen ke rumahnya, dia selalu menghindar. Jelas saja, aku
semakin ingin tahu.
Apa lagi akhir2 ini Rafly jadi agak ANEH.
Dia sering banget terlihat kecapekan. Bahkan
tertidur ketika bel istirahat belum berbunyi.
Tiap kali kutanya, dia cuma TERSENYUM.
Satu minggu kemudian ABI (ayahku) memberitahu
bahwa BEASISWA yang beliau ajukan untuk Rafly ke komite sekolah, disetujui.
Waktu itu hari Minggu siang. Karena tak sabar
untuk memberitahukannya pada Rafly, aku segera meluncur ke rumahnya.
Rumah Rafly sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan.
Beberapa kali ketukanku tak ada yang menjawab.
Untungnya, salah seorang tetangga Rafly lewat. Beliau memberitahuku kalau Rafly
sedang ‘BEKERJA’ di BENGKEL Bang Arif.
Bekerja?. Tentu aku sedikit terheran-heran. Tapi
aku segera menanyakan letak bengkel itu padanya.
*KEHIDUPAN RAFLY*
Bengkel Bang Arif terletak sekitar 1 km dari
sana. Aku langsung meluncur, tapi tidak
serta merta berhenti di depan bengkel. Kuparkir mobilku sekitar 20 m darinya
dan melihat keadaan dari kejauhan.
Rafly ada disana. Sedang mengotak-atik sebuah
mobil.
Penampilannya sama dengan montir-montir di bengkel
kecil yang biasa kulihat di pinggir jalanan. Dengan baju dan celana lusuh dan
kotor oleh gemuk dan oli. Wajahnya yang TAMPAN juga tersamar oleh coreng
moreng.
Kulihat Bang Arif berada disampingnya. Sepertinya
mereka sedang membicarakan masalah mobil itu. Rafly kulihat mengangguk-angguk,
lalu ia nyelonong kebawah kolong mobil.
Satu lagi hal baru tentangnya yang kuketahui.
Diikuti dengan berbagai macam pertanyaan baru.
Apa benar dia bekerja?. Atau cuma belajar?.
Apa sebenarnya hubungannya dengan Bang Arif?.
Apakah pekerjaan ini alasan dia menolak semua
undanganku?.
Aku tak tahu jawaban dari semua itu, tapi aku
berniat untuk mencari tahu.
Dengan nekat, kuarahkan mobilku kesana.
"Bang Arif!" panggilku sembari membuka pintu
mobil. "Saya mau ganti oli mobil nih!. Bisa bantu?" pintaku
menghampirinya yang terlihat sedikit kaget.
"Lhoo. . . Dhek Dimaz. Sendiri?" tanya Bang Arif balik.
"Iya Bang. Ini, mau ke rumah Rafly. Jadi sekalian
ganti oli disini. Dapet rekomendasi dari orang. Katanya bengkel Bang Arif
bagus. Kali aja dapet diskon” dustaku lancar, meski dalam hati aku heran dengan ide
mendadak yang kudapat.
"Halah!. Bisa aja. Boleh deh. Nanti saya diskon.
Kalau nyari RAFLY, tuh!, dia dibawah!" sahut Bang Arif menunjuk ke
bawah.
Perlahan Rafly muncul dari kolong mobil.
Langsung aku terkesiap karena melihatnya BERTELANJANG
DADA!.
Itulah pertama kalinya dia telanjang dada
dihadapanku. Selama ini dia selalu berpakaian lengkap, apalagi dia hampir tak
pernah ikut kegiatan olah raga di sekolah.
--Oohh,
ternyata dia menyembunyikan tubuh INDAH yang terlihat atletis. Tubuh yang
MENYEMPURNAKAN wajahnya yang TAMPAN.
“KOK NGELIAT GUA SAMPE SEGITUNYA?” tegurnya saat dia memegoki
pandangan mataku yang melotot.
Otomatis wajahku merah karena malu kepergok.
"NGAPAIN SIH KESINI?" tanyanya sedikit menggerutu.
Bibirnya cemberut tak senang, dan dia tak mau
memandangku. Malah melihat mobilku.
"Lho?. Kok lu JUTEK gitu?. Emang kenapa?. Gue kesini
kan mau periksa mobil gue. Bang Arif aja gak nyolot gitu. Ya kan Bang?" belaku mencari dukungan.
"Pasti!" sahut Bang Arif spontan dengan senyum terkembang,
membuat Rafly ngedumel gak jelas.
"Kalau gitu, biar Rafly aja yang ngurus mobil Dhek
Dimaz ya?" sambung Bang Arif.
Aku mengangkat bahu dan menyerahkan kunci mobilku
pada Rafly.
Dia langsung menyambarnya, masih cemberut dan tak
mau melihatku.
"Hey!. Kalo belum sebulan mobil gue udah rewel lagi,
gue tuntut elu ya?. 3 kali servis gratis!" godaku geli melihat
kekesalannya. Apalagi saat dia kembali ngedumel gak jelas sambil berlalu.
"Sama pelanggan harus senyum Wan!" goda Bang Arif yang jadi
ikut-ikutan geli melihatnya.
"Iya!. Bikin males dateng aja!" imbuhku.
"SABODO..!" umpat Rafly pelan.
Bang Arif tertawa kecil. "Kalau gitu, duduk dulu Dhek
Dimaz?. Mau minum apa?"
"Agak laper nih Bang. Tempat makan yang enak dimana
ya?"
tanyaku.
Sekali lagi, ide dadakan muncul di otakku.
Aku tahu, aku tak mungkin mendapatkan apapun kalau
aku ngomong dengan Rafly. Tapi mungkin aku bisa mendapatkannya ‘bocoran’
tentang Rafly dari Bang Arif. Jadi aku perlu bicara berdua dengannya.
"Kalau restoran sih, agak jauh... Saya juga gak tau
tuh, mana yang enak. Biasanya saya sama yang lain makan di warung
sebelah."
Kulihat memang ada sebuah warung kecil di sebelah
bengkel Bang Arif. Seumur-umur, aku belum pernah aku makan di tempat seperti
itu.
"Enak Bang?" tanyaku sedikit ragu.
"Kalau buat saya sih enak aja. Gak tau kalau dhek
Dimaz."
Sepertinya aku tak punya pilihan lain. "Boleh
deh Bang” putusku pasrah.
"Ayo saya temenin. Yang jual namanya Bu Sumilah.
Asli orang Surabaya,kayak saya” jelas Bang Arif dan melangkah mendahuluiku.
*BANG ARIF
BERCERITA*
Yang namanya bu Sumilah ternyata wanita berusia 40
tahunan yang memiliki logat bicara lucu. Meski asli Surabaya, lingkungan dia
adalah orang2 yang datang dari Madura. Dan orangnya super ramah. Beliau
menyambut kami dengan suara cemprengnya.
Bang Arif memesankanku kari ayam.
"Masakan kari ayam bu Sumilah enak banget lho Dhek” ujar Bang Arif berpromosi.
Aku cuma mengangguk pasrah. Apa aja deh. Yang
penting kami bisa bicara.
"Bang Arif ikut temani saya makan yah?. Sekalian ada
yang mau saya omongin” pintaku.
Bang Arif tersenyum paham. "Tentang Rafly kan?"
tanyanya langsung.
--Kok
dia dia bisa MENEBAK bahwa tujuanku satu satunya adalah mencari tahu lebih
banyak tentang Rafly??.
Karena sadar tak ada gunanya berbohong, aku
mengangguk membenarkannya.
"Apa yang ingin Dhek Dimaz ketahui?" tanyanya
"Banyak. Tapi kita bisa mulai dengan apa HUBUNGAN
Bang Arif dan Rafly. Kalau Bang Arif gak keberatan” pintaku.
"Sebenernya Rafly pernah berpesan agar saya tidak
mengatakan apapun pada Dhek Dimaz.Tapi.. , saya yakin Dhek Dimaz punya ITIKAD
BAIK dan tidak ada maksud-maksud LAIN” kata Bang Arif dengan mata menyelidik.
Aku terkesiap mendengar kalimat terakhir Bang Arif
dan ingin menanyakan maksud ucapannya.
Tapi Bang Arif keburu memulai ceritanya.
"Tidak ada hubungan darah antara kami. Tapi Bang
Arif kenal baik dengan almarhum bapak dan ibu Rafly. Mereka banyak membantu
Bang Arif waktu pertama kali datang kesini. Mereka juga yang dulu melamarkan
istri saya. Mereka benar-benar orang yang baik. Tak adil rasanya kalau mereka
harus meninggal dalam kecelakaan”.
“Saat meninggal, mereka hanya MEWARISKAN rumah itu dan
sedikit uang di bank”.
“Tepat 7 hari setelah orangtuanya meninggal, dia datang
kerumah dan bilang ingin kerja di bengkel ini. Sebenarnya saya sudah mengatakan
kalau saya tak ingin dia kerja, dan saya bersedia membiayai sekolahnya. Dia
menolak dan ngotot mau bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri”.
“Dia berterima kasih atas niat baik saya,tapi dia sadar
kalau kami tidak memiliki ikatan darah. saya tidak punya kewajiban atas
dirinya. Dia tak ingin membebani saya. Dia ingin bekerja dan berusaha sendiri.
Kalau saya tak mau menerimanya, dia akan melamar di tempat lain”.
“Kamu mungkin sudah paham dengan sifat keras kepalanya.
Jadi. . . saya menerimanya. Biasanya dia hanya bekerja disini. Tapi KARENA ADA DHEK
DIMAZ, sekarang di malam hari Rafly juga bekerja di sebuah rsetoran di kota
yang buka 24 jam".
Penjelasan terakhir itu tentu saja membuatku
kaget.
"KARENA ADA SAYA gimana Bang?" tanyaku super heran.
Bang Arif tersenyum.
"Dia tahu bahwa Dhek Dimaz yang MEMBANTU membayar
biaya rumah sakit kemarin. Dan dia ingin segera mengembalikannya."
Aku tergagap mendengarnya: “T - ta-tapi. . . "
"Saya tahu Dhek Dimaz tidak menginginkannya” potong Bang Arif menenangkanku
yang jadi gugup.
"Tapi anak itu bersikeras ingin mengembalikannya.
Sebenernya saya khawatir. Dia bisa sakit kalau terus begini. Dia hampir-hampir
tak punya waktu untuk beristirahat."
“Masa sampai segitunya Bang?”
“Ya, Rafly adalah tipe orang yang TAKUT BERHUTANG
BUDI. Dia sering merasa HUTANG-BUDI
harus DIBAYAR – paling tidak, untuk membalas budi”
Aku menghela nafas mendengarnya. Tipikal khas
Rafly.
"Saya akan coba berbicara dengan dia” kataku pelan.
Bang Arif mengangguk paham.
"Semoga Dhek Dimaz bisa melunakkannya. Kalau gitu
silahkan makan dulu. Saya tinggal ya?. Saya masih kenyang” pamitnya.
Lalu Bang Arif pergi meninggalkanku untuk makan
dan berpikir.
--Dan
aku punya 1 komentar tentang masakan Bu Sumilah. SUPER PEDAS!!
Bu Sumilah mengatakan kalau Bang Arif sudah
membayar makananku, tapi aku bersikeras membayar sendiri dan meminta beliau
mengembalikan uang Bang Arif.
Aku segera keluar dengan membawa sebotol minuman
soda dingin, menghampiri Rafly yang sedang memeriksa mobilku.
"Selesai?" tanyaku dan mengangsurkan botol
itu padanya.
Untuk sejenak Rafly cuma melihatnya,tapi ia lalu
menerimanya.
"Gak ada masalah dengan mobil loe. Oli nya juga
masih bagus. Minim baru seminggu kemarin ganti. Kesimpulannya, BUKAN mobil ini
alasan loe kemari.” tukasnya singkat.
Aduh!. batinku.
Rafly minum sebentar. "Jadi. . . ada apa
sebenarnya lo kesini?" tanyanya langsung tanpa melihatku.
Lama-lama aku jadi agak kesal dengan sikapnya.
Tiap kali ngomong, dia gak pernah mau melihatku. Selalu menatap sesuatu yang
lain.
"Tadinya mau kasih lu berita bagus. Tapi berhubung lu
jutek abis dan gak mau ngeliat muka gue, sebaiknya gue BATALIN aja. Gue pulang dah." aku ngeloyor cepat
“Bang Arif...!!” kataku mencari Bang Arif yang ternyata mendengar
panggilanku dan segera keluar.
"Berapa Bang?"
"Udah bawa saja. Kunjungan pertama gratis. Lagian,
gak ada yang perlu diganti/diperbaiki” jawab Bang Arif.
Aku nyengir mendengarnya: “Makasih Bang. Pulang dulu
ya?" pamitku
“Ya, silahkan Dhek.. Sering seringlah datang kemari..
Dhek Dimaz juga SENANG kan kalau bisa sering KETEMU Rafly?”
Aku langsung masuk ke mobil.
--Heran,
kenapa Bang Arif menduga aku “SENANG” kalau sering ketemu dengan Rafly?.
Tapi lalu sadar kalau KUNCI masih dipegang oleh
Rafly.
Dia yang masih diam cemberut dan tak mau
melihatku, berdiri disamping jendela mobil.
Tanpa bicara aku menadahkan tangan, meminta kunci.
"Ada apa datang kesini?" Rafly mengulang pertanyaannya lagi
tanpa memberikan kunciku.
"Gue udah bilang BATAL kan?. Mana kuncinya!" desakku dengan nada datar.
Kulihat dia menghela nafas sebentar.
"Baiklah. Maaf. Ada apa?" tanyanya lagi melunak.
"Bisa melihat gue kalo sedang ngomong?" pintaku yang sedikit terganggu
karena dia jelas menghindar.
Kali ini dia langsung melihat ke mataku dan
menatapku tajam.
Ngambekku memang agak OVER-ACTING dan sedikit LEBAY,
tapi justru waktu itulah aku baru benar-benar tahu kenapa teman-teman yang lain
menganggap Rafly menakutkan.
Sorot matanya beneran bisa membuat keder. Apa lagi
kalau dia kelihatannya marah seperti sekarang. Aku sendiri hampir membuang
muka, tapi setengah mati menahan diri.
"Sebenernya mau loe apa sih?" tegurnya kesal.
"Loe pikir gua harus gimana?. Kalo elo jadi gua, apa
loe bisa tenang-tenang saja saat gua melihat elo pake baju gembel dan muka
coreng moreng gini?"
Aku melongo mendengarnya. "Terus kenapa?. Apa yang
salah dengan itu?" bantahku.
"Toh elu melakukan pekerjaan yang halal. Daripada gue
melihat lu pake baju keren tapi nyopet?"
"Loe bener-bener tau cara bikin orang ngerasa rendah
ya?"
katanya
Jelas aku kaget.
"Rendah?. Siapa yang ngerendahin?. Gue gak pernah
berniat gitu kok!. Elu aja yang ambil kesimpulan sendiri. Gue gak pernah
mempermasalahkan elu siapa, kerja apa atau pake apa. Apa pentingnya?. Elu
sendiri yang ribut kan?”.
“Kalo lu menilai orang dengan cara seperti itu, salahin
diri lu sendiri dong yang picik. Apa hubungannya dengan gue?" berondongku yang akhirnya jadi
bener-benar jengkel dengan reaksinya.
"Coba tempatkan diri loe dalam posisi gua." katanya
"ELU JUGA. Tempatkan diri lu dalam posisi gue!" balasku semakin lebay.
"Kalo gua ada dalam posisi elo, gua gak akan merasa
rendah dan terhina!" sahutnya dingin dan meletakkan kunci mobilku di
dashboard.
Kusandarkan tubuhku di kursi mobil dan mengusap wajahku
gundah.
--‘Kok
malah begini sih?. Aku kesini kan mau kasih berita bagus. Malah berantem gak
jelas gini’, batinku.
Kuhembuskan nafas kuat-kuat untuk menahan diri.
"Gue gak pernah ada maksud buat bikin lu merasa
rendah, apa lagi terhina. Gak sedikitpun. Maaf kalo elu ngerasa begitu” pintaku padanya dan memasukkan
kunci untuk menghidupkan mobil.
Rafly masih berdiri disamping jendela dan tak mau
melihatku.
"Satu lagi. Komite sekolah telah MENYETUJUI
pengajuan proposal BEASISWA buat elu” ujarku.
Lalu tanpa bicara lagi, aku melajukan mobil
meninggalkannya tanpa menoleh lagi.
*MATA YANG INDAH*
Esok harinya, aku sengaja mengacuhkan Rafly. Tak
sekalipun aku bicara atau melihatnya.
Beberapa teman di kelas menanyakan perubahan
sikapku. Tapi aku hanya tersenyum tanpa memberi pejelasan.
Pada saat istirahat, Rafly mendapat panggilan oleh
wali kelas. Sepertinya beliau ingin memberitahu tentang beasiswa itu secara
pribadi padanya.
Aku tetep pura-pura acuh tak peduli, hingga
akhirnya bel pulang berdering.
"Gua mau ngomong” kata Rafly singkat.
Tiba-tiba saja dia sudah berada di sebelahku.
Padahal aku sendiri masih mebereskan barang-barangku yang bertebaran di meja.
Dua temanku yang tadinya mau kuajak pulang bareng
tampak WASPADA. Mereka pasti berpikir kalau aku dalam BAHAYA.
"Kalian pulang duluan aja” kataku pada mereka dan tersenyum
menenangkan.
Meski masih terlihat cemas, akhirnya mereka pergi.
"Ada apa?" tanyaku pada Rafly sembari
kembali membereskan barang-barangku tanpa melihatnya.
"Elo yang mengajukan beasiswa itu?" tanya Rafly langsung.
"Bukan!" jawabku langsung.
"Gue cuma mengusulkan. Salah seorang anggota komite
dan wali kelas kita yang mengajukan. Dan.., SUPAYA LU nggak lagi merasa
direndahkan.... elu..” aku menekan kalimat terakhir,
". .Elu harus tahu. Bahwa sebelum bisa mendapatkan
beasisiwa itu, pihak sekolah telah memeriksa elu. Bukan hanya dari segi
ekonomi, tapi juga prestasi akademis. Jadi jika komite sekolah udah
menyetujuinya, itu berarti lu layak mendapatkannya. Hal ini gak ada hubungannya
dengan keputusan perorangan. Itu mutlak keputusan seluruh anggota komite." jelasku.
Tak ada reaksi dari Rafly.
"Ada lagi?" tanyaku tanpa melihatnya. Mejaku
sudah bersih.
"Loe nggak melihat gua!" katanya, lebih ke arah menegur
daripada bertanya.
"Lu yang ngajarin gue!” sahutku dengan gaya ngambek dan
menyampirkan tas ku.
Aku bangkit untuk pergi, tapi Rafly menahan
tanganku.
"BISA MELIHAT GUA SEBENTAR..?" pintanya.
Sebenarnya aku ingin menolak. Tapi nada suaranya
benar-benar serius.
Pelan aku berbalik dan melihatnya. Aku menatap
langsung ke matanya yang juga melihatku datar.
"TERIMA KASIH MAZ...!" katanya pelan sambil tetap
memegang tanganku.
Ooooh... Selain KESUNGGUHAN dan ketulusan, aku tak
melihat yang lainnya lagi di matanya.
"Sama-sama!" sahutku singkat lalu MENGIBASKAN
pegangannya untuk segera pergi dari situ.
"GUA BELUM SELESAI!" tukas Rafly cepat dan kembali dia
menahanku.
"APA LAGI...?" tanyaku tak sabar tanpa
berbalik.
"Errrr.... Maafin gua yaa Maz” pintanya lirih.
Nadanya yang terdengar begitu aneh mengusikku.
Aku berbalik perlahan dan kembali menatap langsung
matanya.
Dan akupun TERPERANGAH!!.
Ooh, MATA yang INDAH itu..!.
Belum pernah seumur hidupku, seseorang memandangku
seperti cara Rafly memandang aku sekarang.
Tatapan Rafly begitu DALAM dan penuh makna. Aku
tak bisa menjabarkannya dalam kalimat, tapi yang jelas, aku tak bisa lari dari
matanya.
--Apakah
itu hanya perasaanku saja?.
Yang jelas, semua yang ada disekelilingku jadi
lenyap dan terasa tak berarti. Seakan-akan semuanya hanya suara latar dari
sebuah film murahan tanpa makna.

"Dimaz ..?"
Tegurannya membuat kesadaranku kembali. Cepat aku
mengerjapkan mata dan berpaling.
Untuk beberapa saat lamanya, aku harus berusaha
untuk mengumpulkan lagi kepercayaan diri dan gengsiku yang tadi sedikit turun.
Aku harus menarik nafas dalam-dalam agar tenang.
"Udah deh!" kataku akhirnya.
"Sepertinya loe sulit untuk memaafkan gua” katanya pelan: “Apa
yang bisa gua lakukan agar loe mau?"
Kalimat terakhirnya itu memberiku IDE...
"Ada satu hal yang bisa lu lakukan agar gue bisa
memaafkan elu” ujarku.
Kening Rafly berkerut heran.
"Bilang aja..!"
Aku menatapnya serius agar dia tahu aku tak
main-main.
"Berhentilah bekerja di restoran itu!. Berhenti
kerja gila-gilaan hanya untuk mengumpulkan pengganti biaya rumah sakit. Udah
cukup elu bekerja di Bang Arif. Konsentrasi aja pada studi elu. Bisa?"
Rafly terdiam untuk beberapa saat lamanya.
"Menerima bantuan dari orang lain bukan berarti lu
turun derajat Raf. Hal itu cuma menunjukkan bahwa elu manusia biasa. Sama
seperti yang lain. Yang juga membutuhkan orang lain dalam satu dan lain
hal!"
kataku lagi.
"Bang Arif yang cerita?" gumamnya pelan.
"Ga penting siapa yang cerita. Itu syarat gue untuk
mau memaafkan elu!. Terima atau nggak, terserah!" putusku dan kembali hendak
pergi.
Tapi sekali lagi, langkahku terhenti karena TANGANKU
kembali DIPEGANG untuk menahanku.
--Beberapa
kali tanganku dipegangi oleh seorang cowok, emang agak janggal, tapi dia memang
tampak serius.
Rafly terlihat berpikir.
Sesekali ia menggigit bibirnya dan menghela nafas.
Sampai akhirnya dia mengusap wajahnya, kalah..!.
"Baiklah!. Gua akan berhenti” putusnya pelan.
Aku tersenyum mendengarnya.
Sebuah REKOR bisa mengalahkan Rafly. Aku yakin
bukanlah hal mudah bagi dia untuk mau menuruti saranku.
"Kalo begitu beres!. Gue pulang dulu. Ada bimbingan
belajar. Dan sore nanti gue mau MAIN lagi ke RUMAH LU. Itu syarat tambahan buat
lu. Boleh kan?".
"Tapi gua baru pulang kerja dari Bang Arif jam
4."
katanya
"OKE..!. Gue kesana sesudahnya!. Sekarang gue pulang
dulu”
pamitku dan pergi dengan senyum senang.
--Duhh...
senangnya aku saat Rafly membolehkan aku untuk main lagi ke rumahnya.
Di Sadur dari ceritapanaslelaki.blogspot.com/